MUHAMMADIYAH ANTARA KEBESARAN DAN KEDEWASAAN

“Organisasi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan gerakan tajdid, sejak awal berdirinya telah memiliki semangat dan cita-cita perjuangan yang luhur, untuk membebas-kan bangsa Indonesia dari belanggu penjajah bangsa lain dan bersama-sama dengan organisasi perjuangan lainnya. Muhammadiyah telah mampu mengantarkan bangsa Indonesia menuju ke pintu gerbang sebagai satu bangsa yang merdeka, bersatu dan berdaulat” demikian kata Jenderal Tri Sutrisno dalam pengarahan nya menyambut Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta Desember 1990 yang baru lalu. Selanjutnya dikatakan “Muhammadiyah” telah tercatat dalam sejarah bangsa sebagai pelopor dalam mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia dalam wadah kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila melalui dakwah dan ide-ide pembaharuannya. Dengan gerakan itu pula Muhammadiyah telah berhasil membawa umatnya menjadi manusia yang berpendidikan serta bertanggung jawab terhadap nasib dan masa depan bangsanya. Tidak sedikit para pemimpin bangsa yang memiliki sosok kepribadian yang menggambarkan perpaduan antara wawasan kebangsaan dan wawasan keagamaan yang pernah ditempa melalui lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah”.

Pernyataan sang Jenderal ini sangatlah beralasan, karena organisasi Muhammadiyah yang tengah menginjak usianya yang ke-78 ini memang telah menampilkan sosok keberadaannya sebagai gerakan sosial keagamaan dan boleh dikatakan berhasil menjadi pelopor dalam pembaharuan Islam di Indonesia, baik dalam bidang sosial, pendidikan maupun keagamaan, sehingga Muhammadiyah menjadi organisasi besar dambaan masyarakat banyak. Barangkali inilah keberhasilan KH. Ahmad Dahlan sang pendiri dalam mempersiapkan kader-kadernya yang mampu merubah alam pikiran tradisional menuju alam pikiran modern.

Hanya, dalam perkembangan selanjutnya, menurut seorang tokoh muda Muhammadiyah DR. Ahmad Tafsir, yang juga dosen IAIN Sunan Gunung Jati Bandung, Muhammadiyah telah menunjukkan kebekuan dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berkem-bang pesat. Dengan kata lain Muhammadiyah telah rapuh dalam menghadapi kemacetan yang ada pada dirinya. Hal senada juga disampaikan oleh Drs. Azyumardi MA. dosen IAIN Jakarta. Dikatakannya Muhammadiyah dewasa ini telah mengalami kemandekan dalam melakukan dalam melakukan modernisasi pemikiran dan gerakan sosial sebab organisasi ini tengah menghadapi ketegangan theologis. Karena sikapnya yang cenderung skripturalistik agaknya Muhammadiyah mengalami kesulitan untuk mengartikulasikan modernitas geraknya dalam konteks theologis, sebagai implikasi dari pemikiran Ibnu Taimiyah yang mempengaruhinya. Karena menghadapi ketegangan theologis itu Muhammadiyah lalu mengalami kemandekan dalam melakukan tajdid (pembaharuan). Sebagai contoh tafsir kemudian mengemukakan bahwa Muhammadiyah justru sering kali meletakkan ucapan-ucapan KH. Ahmad Dahlan sendiri sejajar dengan Al-Qur’an dan Al Hadits, sehingga sulit ditemukan untuk memberi penafsiran baru terhadap kaidah-kaidah yang diletakkan pendirinya itu. Orang Muhammadiyah merasa tabu untuk mengembangkan lebih jauh aksioma yang diwariskan Dahlan “Hidup-hidupiłah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah”, sehingga di saat seorang guru Muhammadiyah menanyakan kapan honornya dinaikkan, ia akan dianggap kurang kental Kemuhammadiyahannya. (Wawasan 12 November 1990)

Lain halnya menurut Lukman Harun, tokoh Muhammadiyah yang amat terkenal gaya keterbukaannya. Menurutnya, gerak Muhammadiyah tak pernah beku dingin. Dalam percepatan zaman yang membawa implikasi pada nilai-nilai kultural dan perilaku keagamaan umat. Organisasi ini selalu mencermati kemudian dilakukan sebuah antisipasi. Dalam proses itulah kecenderungan-kecenderungan propaganda atau pasang buka suara keras-keras dihindari, dengan tujuan Muhammadiyah tidak ingin terjebak dalam operasional strategi organisasi. Lebih dari itu diyakini, ummat akan dapat melihat organisasi Islam di Indonesia menangani perubahan zaman dan tetap berpegang pada Al Qur’an dan Al Hadist. Lukman mengakui bahwa eksistensi Muhammadiyah baik sebagai organisasi maupun pelopor pembaharuan belum bisa mengikuti perkembangan zaman secara cepat, itu disebabkan karena konsekuensi dari sebuah organisasi swasta yang memiliki keterbatasan dari segala aspeknya.

Sementara itu tokoh terkemuka Dr. Amin Rais MA, dalam percakapan sehari dengan cendikiawan yang diadakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam rangka menyongsong Muktamar ke-42 mengemukakan bahwa, sudut permasalahan yang dihadapi Muhammadiyah sebagai refleksi normal dari tuntutan dan harapan masyarakat yang menghendaki Muhammadiyah tampil lebih baik serta memainkan peran pembaharuan yang efektif. Menurut Cendikiawan yang juga Ketua Majelis tabligh pada periode 1985-1990 ini, untuk mencapai harapan tadi Muhammadiyah harus melakukan perombakan mencakup lima aspek: Pertama, Pembaharuan akidah, membersihkan aqidah dari segala bentuk syirik, lebih dari itu pembaharuan akidah (tajdidul akidah) juga harus mencakup soal-soal modern seperti ihwal monopoli ekonomi. Konsekuensinya pembaharuan akidah ini perlu dihadapkan dengan lima masalah besar; kemiskinan, pengangguran kerusakan ekologi, kesenjangan sosial dan dekadensi moral. Jawaban dari masalah ini sangat mendesak bila Muhammadiyah tidak ingin dicap sebagai mengalami krisis relevansi. Kedua, Pembaharuan organisasi (tajdidul al nidzam) yang harus dilakukan secara totalitas, dengan pembaharuan ini diharapkan terjadi perubahan mental, mental yang suka kepada kemampuan dan status quo harus dihilangkan. Amin mengakui bahwa usaha reformasi organisasi baik mekanisme maupun strukturnya tidak mudah, karena kapasitas kemampuan pimpinan tidak merata dan seimbang dengan masalah yang dihadapinya. Ketiga, Pembaharuan sistem kader, sistem pengkaderan yang dilakukan Muhammadiyah selama ini kurang efektif, baik yang melalui organisasi IMM, IPM maupun Nasyiatul Aisyiyah. Jadi perlu adanya peningkatan sistem pengkaderan. Keempat, Perbaikan etos. Fenomena mentalitas malas, boros dan hidup santai menggejala di kalangan Muhammadiyah, kondisi semacam ini bertentangan dengan realisme Muhammadiyah. Muhammadiyah menjadi besar berkat kerja keras dan tidak mem-benarkan bergaya hidup boros, tetapi berpola sederhana. Kelima, Pembaharuan kepemimpinan. Dikatakan bahwa wajah kepemimpinan Muhammadiyah di masa datang harus multi demensional, upaya pembaharuan ini sekaligus menyang kut definisi ulama, sehingga tidak ada lagi pemisahan antara ahli kitab kuning dengan ahli kitab putih.

Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta, juga sekaligus Muktamar Aisyiyah ke-42 dan Muktamar Nasyiatul Aisyiyah ke-7 berlangsung tanggal 15-19 Desember 1990.

Menurut para pengamat Muktamar ini merupakan Muktamar terbesar dalam sejarah Muhammadiyah hingga usianya yang ke-78 ini. Hal ini bisa dilihat baik dari teknis pelaksanaannya maupun bobot persoalan yang menelan biaya kurang lebih satu milyar rupiah. Sehingga tidak mengherankan jika Muktamar ini kemudian diminati oleh banyak kalangan, mulai dari anggota, simpatisan, pegamat, para ahli dan media massa baik dalam maupun luar negeri.

Tema yang digelar dalam Muktamar ini, “PEMANTAPAN MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN DAKWAH DAN GERAKAN TAJDID DALAM RANGKA PENINGKATAN KUALITAS HIDUP MANUSIA DAN MASYARAKAT INDONESIA YANG BERTAKWA KEPADA ALLAH SWT”, adalah tema yang sangat relevan di saat bangsa Indonesia tengah berproses mempersiapkan diri menuju era tinggal landas, demikian kata Menteri Penerangan Harmoko dalam pengaruhnya pada Muktamar Muhammadiyah ke-42. Selain itu Muktamar ini juga dilengkapi dengan agenda-agenda bahasan yang sangat urgen bagi Muhammadiyah dan umumnya umat Islam. Di antaranya: STRATEGI PENYANTUNAN DHUAFA, UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PIMPINAN, STRATEGI DAKWAH DALAM ERA INFORMASI DAN INDUSTRI serta PENYUSUNAN PROGRAM PERSYARIKATAN UNTUK PERIODE KE DEPAN.

Muktamar yang dibuka langsung oleh Presiden Suharto itu dihadiri kurang lebih 3000 muktamirin, ratusan pengamat dan puluhan ribu simpatisan yang turut menggembirakan acara acara ini. Sehingga hampir-hampir kota Yogyakarta menjadi kota Muhammadiyah dan demikian memang agaknya. Yogyakarta menjadi semarak Muktamar pun menjadi meriah kalau tidak boleh dibilang kolosal.

Lebih meriah di samping tegang adalah saat mana Muktamar memasuki hari-hari sidang-nya, sekalipun sebenarnya “perang urat saraf” hampir telah dimulai sejak berlangsungnya sidang Tanwir untuk memilih 39 calon formatur. Adalah menjadi rahasia umum bahwa perang urat saraf dan munculnya istilah “kubu”. Dengan gencarnya berawal dari tidak terpilihnya tokoh Muhammadiyah dari Jakarta, Drs. Lukman Harun dalam 39 calon terpilih. Dari sana sana pula hingga ada seorang tokoh Muhammadiyah yang berucap “ini ada rekayasa”. Istilah kubu kemudian menjadi arena perbincangan di Muktamar terutama kalangan pers, sehingga Rusdi Hamka yang juga pakar pers berkomentar “agaknya pers inilah yang membikin suasana semakin keruh”. Yah begitulah kira-kira tugas utama pers, mengorek terus dan terus menguliti satu gejala kalau tidak dikatakan menelanjangi. Sehingga istilah kubu sekaligus bintang yang berdiri dibelakang kubu menjadi agenda pembicaraan yang tak pernah sepi selama Muktamar berlangsung.

Sebagai warga atau simpatisan Muhammadiyah memang harus lebih jeli dalam melihat suatu persoalan yang berkembang dalam organisasinya, sebab bisa jadi disaat kita lemah dan kurang jernih dalam melihat persoalan gaunnya hanya akan menambah rumitnya persoalan. Kita harus obyektif dan harus dapat melihat gejala dengan kedua belah mata terbuka, kita tidak boleh begitu saja memasuki satu ruang persoalan terus bergabung meramaikan ruang tanpa melihat dan menilai ruang lain. Kenapa kita tidak ter-bang saja diantara ruang itu sehingga kita tahu bahwa persis duduk persoalannya, kemudian bisa menggabungkan kedua kekuatan dalam ruang yang berbeda, tidaklah akan lebih baik jika kemudian kita mengambil saja hikmah yang ada. Nakamura, yang pengamat dari Jepang itu mengatakan bahwa Muhammadiyah memang belum dewasa dalam menghadapi konflik semacam ini, Muhammadiyah memang perlu berlatih dan kalau perlu belajar pada organisasi lain dalam hal meredakan konflik. Selanjutnya dikatakan, selama ini Muhammadiyah memang terlalu menitikberatkan, dan sibuk dalam amal usahanya sehingga perbedaan-perbedaan pendapat yang mestinya mudah terselesaikan kemudian menjadi berlarut-larut dan berkepanjangan.

Lepas dari setuju atau tidaknya Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta lebih diwarnai oleh perbedaan pendapat kalau tidak boleh dikatakan konflik. Sebagai penulis sekaligus subsistem dalam organisasi besar ini kita tetap berharap apapun yang kita saksikan atau alami dalam Muktamar kemarin merupakan pengalaman dan sekaligus bahan masukan untuk perbaikan Muhammadiyah di masa datang. Silakan berbeda pendapat karena di dalam perbedaan pendapat itu tersembunyi hikmah. Marilah kita ambil hikmah itu.