OPTIMISME GENERASI MUDA INDONESIA

Judul : Generasi Muda Indonesia Memandang ASEAN.

Oleh : A.R Sutopo

Penerbit : Centre for Strategic and Internasional Studies.

Tahun : Jakarta, 1990.

Halaman : 79

Peran generasi muda Indonesia dalam mewarnai sejarah perjalanan republik ini tidak bisa dibilang kecil. 1908, 1928, 1966 adalah tahun-tahun yang membuktikan hal itu. la selalu tampil dan menyuarakan semangat heroik. Kondisi status quo, kepincangan dalam masyarakat, “kelucuan” politik atau apapun keadaanya yang dianggap pantas untuk dipertanyakan, senantiasa mengusik perhatiannya. Pendek kata, generasi muda bisa dipertegas sebagai duta-duta pembaharuan.

Generasi muda terkadang dilawankan dengan generasi tua. Yang muda disamakan dengan kekuatan dan dinamika, yang tua disamakan dengan kearifan dan bijak bestari. Akumulasi anggapan terhadap dua generasi tersebut akhirnya tumbuh menjadi mitos sepanjang zaman.

Banyak ahli telah melakukan penggolongan suatu generasi untuk mempermudah pemahaman tentang hal itu. Namun, hampir semua dari penggolongan itu hanya didasarkan pada umur semata. misalnya, ahli-ahli dalam Psikologi Perkembangan. Ini penting bagi deskripsi demografis tapi tidak berarti bagi analisa generasi.

Jose Ortega Y Gasset (1883-1955), seperti dikutip Daniel Dhakidae, pernah menyatakan ketidakpuasannya dengan penjelasan tentang generasi yang hanya berdasarkan pertimbangan biologis dan genealogis. Ia memasukkan unsur baru yaitu, suatu kekuatan, yang bukannya kekuatan fisik akan tetapi dalam bentuk: keyakinan, ide, adat istiadat, perkiraan, anggapan, sikap (Prisma. No.2, tahun 1980).

Berpijak pada pendapat Ortega di atas maka jika kita melihat perubahan suatu masyarakat hanya dari aspek sosial politis semata kiranya belum terlalu mendalam, hal tersebut tergantung dari: ide, keyakinan maupun sikap yang dipunyai oleh orang-orang sezaman. maka, dalam konteks pembicaraan inilah terkadang generasi muda dikatakan sebagai ‘anak zaman’.

Dari sebab itu, keberadaan generasi muda yang notabene memiliki wawasan khas serta banyak meminati berbagai persoalan yang aktual senantiasa mengundang berbagai kalangan khususnya kalangan intelektual untuk melakukan penelitian sebagai ikhtiar menguak tabir berputar di sekitar satu kata: generasi.

Begitu pula yang dilakukan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Lembaga studi swasta ini mengadakan kegiatan penelitian lapangan tentang sikap generasi muda Indonesia terhadap ASEAN. Laporan ini merupakan hasil penelitian eksploratif, berdasarkan data-data yang terkumpul melalui penelitian lapangan yang dilaksanakan antara tanggal 5 dan 15 Oktober 1988.

Buku hasil penelitian yang diberi judul-Generasi Muda Indonesia Memandang ASEAN setebal 79 halaman ini mempunyai anggapan dasar bahwa dalam masyarakat Indonesia masalah-masalah internasional, khususnya hubungan luar negeri, terutama menjadi perhatian kalangan kelas menengah dan kaum elite. Oleh karena alasan itu maka dalam penelitian ini diambil pendapat dari kalangan yang dipandang sebagai kelas menengah dan elite Indonesia (hal. 5).

Oleh sebab itu pula sampel penelitian diambilkan dari kelompok menengah dan elite yang terkonsentrasi di daerah-daerah perkotaan, terutama di kota-kota besar yang dipandang mempunyai perhatian besar terhadap masalah-masalah luar negeri.

Langkah pertama penelitian mengenai pengetahuan generasi muda Indonesia tentang ASEAN dijalankan dengan membandingkan efektivitas empat organisasi utama, yaitu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Gerakan Non Blok, ASEAN, nan organisasi Konperensi Islam (OKI), dalam memperjuangkan kepentingan-kepentingan Indonesia di arena Internasional (hal. 11).

Hasil penelitian menunjukkan, kurang lebih 70% responden berpendapat bahwa ASEAN merupakan organisasi regional yang paling efektif dalam memenuhi kepentingan-kepentingan Indonesia dibandingkan dengan organisasi-organisasi lain-nya. Berturut-turut berikutnya adalah PBB kemudian Non Blok dan yang terakhir OKI (lihat tabel 2, hal 12). selain itu juga, tidak satu responden pun yang melihat bahwa organisasi regional ini tidak diperlukan Indonesia.

Langkah selanjutnya, responden diberi pertanyaan-pertanyaan yang pada dasarnya berkaitan dengan persepsi generasi muda tentang fungsi-fungsi ASEAN. Mayoritas dari responden berpendapat bahwa ASEAN mempunyai peranan yang mendasar dalam memelihara hubungan- hubungan damai di antara negara-negara bertetangga sehingga memungkinkan para anggotanya mewujudkan tujuan, kepentingan dan cita-cita masing-masing secara tenang (hal. 19, lihat tabel 9).

Raihan lain penelitian lapangan yang dilakukan oleh CSIS ini berkisar pada masalah penilaian tentang penampilan ASEAN, meliputi bidang: Politik, Ekonomi, Sosial Budaya dan Keamanan (baca hal. 23-37).

Satu hal yang kiranya menonjol dari penelitian eksploratif ini adalah bidang Ekonomi terutama bidang perdagangan dan sumber-sumber investasi. Hampir 70% responden yang menghendaki supaya kerjasama Ekonomi ASEAN mendapat prioritas utama.

Keinginan tersebut terdapat di kalangan yang lebih muda usianya. Kelompok usia di bawah 35 th, terdapat sekitar 71% responden yang menghendaki 68%, Pada kelompok usia di atas 45 th hanya 61%(lihat tabel 18).

Bidang Sosial Budaya memperoleh penilaian paling tinggi dan dianggap mengalami kemajuan. Bersamaan dengan itu, sosialisasi ASEAN di Indonesia telah cukup dilakukan.

Buku hasil penelitian ini, juga dilengkapi dengan lampiran “sikap mengenai hubungan luar negeri yang berisi sejumlah pertanyaan yang diajukan pada para responden serta lampiran tabel sehingga memudahkan bagi yang ingin melihat secara langsung pertanyaan-pertanyaan yang dipergunakan sebagai alat ungkap.

Melihat cakupan masalah yang diungkap dalam penelitian eksploratif ini, ada beberapa perolehan kesimpulan. Per-tama, temuan utama penelitian ini adalah bahwa pada umumnya generasi muda Indonesia menilai positif kerjasama ASEAN. Kedua, hampir semua kelompok umur dalam masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan kelas menengah dan kelompok elite, menghayati nilai-nilai bersama sejauh yang menyangkut keterlibatan Indonesia dalam ASEAN. Ketiga, umumnya mereka merasa puas terhadap penampilan ASEAN selama ini meskipun untuk masa depan diperlukan berbagai peningkatan dan perluasan kegiatan dalam berbagai bidang kerjasama, termasuk kerjasama militer. Keempat, generasi muda Indonesia memandang ASEAN sebagai “Madang” yang cukup subur bagi Indonesia.

Atas dasar penilaian mereka terhadap prestasi ASEAN selama ini dapat dikatakan bahwa kesuburan ASEAN sebagai suatu ladang bagi pelaksanaan dan kiprah politik luar negeri Indonesia mencakup aspek-aspek yang multidimensional (hal. 44-47).

Dari kesimpulan di atas, tampak betapa perlunya keberadaan ASEAN bagi Indonesia. ASEAN tidak sekedar patut untuk dibanggakan, lebih dari itu, dituntut supaya bisa menjamin keberlangsungan kerja-sama antar negara anggota ASEAN bisa dilihat dengan digunakannya Jakarta sebagai tempat kesekretariatan ASEAN. Dari sini Indonesia bisa memerankan ASEAN untuk urusan-urusan kepentingan dalam negeri secara optimal.

Namun perlu dicatat, tentang pengambilan sampel responden yang hanya dilakukan pada kelompok menengah dan elite. Dengan responden tersebut sudah tentu nilai generalisasinya perlu dipertanyakan. Apakah generasi muda Indonesia di luar cakupan sampel penelitian yang diambil, tidak mempunyai minat terhadap ASEAN?

Terlepas dari itu semua, kiranya penelitian CSIS ini telah banyak memberikan sumbangan pada kita. Hasil penelitian ini sangat diperlukan bagi siapa saja yang berminat dan menjadi pemerhati masalah-masalah hubungan luar negeri Indonesia, khususnya ASEAN serta kepemudaan.

Di sisi lain, studi ini sebagai bukti betapa strategisnya posisi generasi muda (baca: mahasiswa) sebagai penerus kepemimpinan bangsa. Akumulasi informasi dipandang sebagai penyebab utama munculnya semangat generasi, muda dalam kancah pergumulan pemikiran yang berskala lokal, regional maupun global.

Dari realitas seperti itu maka sebutan ‘anak zaman’ yang dilekatkan pada generasi muda, mendapat tempat yang sewajarnya.

(TN. Rohman)