
KAMPUNG MUHAMMAD – CARPE DIEN
Ketika burung, kupu-kupu, pesawat, bahkan pikiran kita terbang mengangkasa, tiadalah sesuai yang kita raih. Karna tiada madu di angkasa, biji-bijian, dan wujud finansial yang kita maksudkan. Kecuali hamparan awan putih bagai bidadari dalam peraduan, selalu merangsang untuk digauli.
Apakah itu yang kita cari? Tentu saja bukan. Kecuali proses aktivitas itu. Sebab di angkasa kita dapat menikmati keindahan alam, kecantikannya, terlebih-lebih dapat berpuas hati dengan memandangi yang ada di bawahnya. Hingga menemukan hakikat penciptaan yang tiada dua nilainya.
Itulah kesan Wiryo, yang terus meluncurkan penanya pada buku harian. Yang jelas, Wiryo terilhami nonton film tadi siang Dead Poets Society yang dibintangi Robin Williams, disutradarai Peter Weir. Setelah dipilih betul kata yang tepat, ia langsung memuntahkan gagasan itu pada buku harian. Tetapkan film sebagai ilham tentu, dengan bahasa Wiryo yang berbunga-bunga.
“Carpe Dien, ungkapan yang mampu menggugah hidup dan kehidupan. Suatu kesadaran jiwa kini bangkit dan kembali jadi juara perjalanan. Rebutlah hari, untuk merengguk sumsum kehidupan, sebelum ajal menjelang. Semua adalah kiasan dengan segudang makna dan motivasi diri.
“Carpe Dien, engkau hadir saat jiwa-jiwa mulai menampakkan kelesuan sebab segudang permasalahan. Jiwa sinarmu menggiatkan diriku lagi, memenuhi intuisiku dan daya imajinasiku. Yang jelas, keberadaanmu menggugah aku kembali menyusuri pematang kehidupan untuk menemukan areal persawahan yang tumbuh subur.
“Carpe Dien, engkaulah makna itu, dicari manusia sebagai suara rohani, dalam kondisi apapun. Suara-suara itu sangat didambakan. Benar! Sebab aku yakin akan hal itu, dan butuh! Dalam hidup! Ya…dalam hidup? Dalam mesti? O…itu urusan Tuhan di mana aku tahu matiku. Aku butuh itu untuk menumju.” Itulah bahasa puitis Wiryo dalam buku hariannya tertanggal 31 Desember 1990, saat-saat berakhirnya tahun 1990.
Wiryo masih tetap diam di kursi peot, sesekali membuka-buka lembaran-lembaran catatan harian yang lalu. Mangut-mangut, kadang tertawa sendiri sambil menikmati sebatang rokok dan kopi tubruk, sesekali melambung pikirannya. “Seandainya, ini hanya seandainya. Warga kampung sini, saat ini mempunyai pikiran yang persis saya, kemungkinan besar, kampung ini besok akan berubah. Setidaknya, esok akan merebut hati yang lebih baik, dengan bekerja lebih giat. Tapi ya maklum walau rambut sama hitam, tapi pola pikiran toh lain adanya. Memang itu yang digariskan. Tentu yang lebih baik. Toh pikiran saya tidak selamanya benar.”


Menurut alur pakem, Samson datang. Tersenyum simpul. Tapi kini namanya ada penambahan di depannya. Jadinya, “Saddam Samson”, katanya dikaitkan dengan perang teluk dan situasi demam Saddam. Samson sendiri juga pengagum kaum Saddam.
“Wirr….. lagi ngapain bah,” (gaya Betawi campur Batak) “kata orang dikir.”
“O…alah, kamu to Son, saya pikir Nyonya,” sahut Wiryo.
“E…. Mana saya sekarang tambah “Saddam”, jadinya Saddam Samson,” sambil menepuk dada.
“Mau Saddam, Bush, Tokek, jangkrik, toh kamu tetap orang kampung, sekarang ke kota, rekak-rekake, ngangsu kawruh di kampung Muhammadiyah. Jleger-nya, Ya, masih kampungan, apalagi pola pikirnya semakin….”
“Sudah, sudah jangan diteruskan,” potong Samson, “Cukup di sini dan titik, masih banyak pekerjaan dari para penggunjing orang.”
“O, ya Son…eee…Saddam, apa komentarmu tentang perang teluk, menurutmu siapa yang salah?” Tanya Wiryo seperti biasanya memancing diskusi.
“Komentarku, ya…biasa-biasa saja, ndak ada yang istimewa.” Jawab Samson acuh.
“Bagaimana Son, kamu? Mahasiswa jawab itu yang ilmiah,” Wiryo nyeletuk.
“O…minta yang ilmiah? Begini, menurut Samson, perang tetap biasa-biasa saja tidak ada yang istimewa, sebab perang ada di mana-mana. Di situ ada nasi, jadilah perang. Kamu kira, kampung kita ini juga tidak perang?”
“Lho, memangnya adem ayem. Kenapa to!” Wiryo bersemangat.
“Perang! Kampung kita ini senang perang! Kepala kampung masih bingung nyusun strategi baru, berikut pasukan-pasukannya, ya, untuk menghadapi “pasca”, setelah moment bulan Desember lalu di Yogyakarta. Bukan hanya itu. Dewan legislatif mahasiswa, maksud saya SMPT, menggugat posisi dan peran yang semestinya. Tapi sudah dinetralisir. Masih ada lagi, mahasiswa perang dengan duduk…..”
“Wah gawat Son kalau terjadi….” Wiryo ngragap.
“Sabar dulu, maksud saya itu “perang rayuan”, untuk mendapatkan nilai, cepat lulus, ijazah ditangan dan kerja, pegawai negeri atau nganggur.” Samson sambil manggut-manggut.
“Maksudmu (yang pandai merayu), besar kecilnya nilai dan kelulusan itu berdasar kecilnya rayuan begitu,” Wiryo menegaskan.
“Hus, jangan keras-kertas,” sentak Samson.
“Lho memangnya begitu to,” Wiryo melotot.
“Sekarang, tidak usah bicara perang, apalagi perang teluk. Biarkan perang itu ada, sebab itu, sudah menjadi tradisi manusia sejak dulu. Karena kita hidup, maka kita perang. Ternyata, perang menjalar dalam segala dimensi kehidupan manusia. Dalam perang tidak ada istilah kalah dan menang, semuanya kalah dan rugi. Tinggal kita berperang pada jalan yang mana. Kemenangan itu hanya bisa dinikmati manusia jika ia bisa menikmati memahami dan mengambil intipati dari perang itu sendiri. Oleh karena, kezaliman tetap akan bercokol di muka bumi bagai roh Rahwana yang selalu ngumbara. Dan kemenangan itu kalau kita mau dan mampu menentukan sikap, mana yang terbaik untuk kita lakukan demi kepentingan vertikal dan horizontal. Juga menyiasati perjalanan yang semestinya. Buat tidak sepaneng kita posisi perkataan Jawa “Sing Sapa salah saleh”, kita gelar dalam dimensi semesta ini. Tinggal bagaimana kita dapat merebut hari, kita manfaatkan seoptimal mungkin sebelum ajal tiba. Bukankah kematian semakin “akrab” kaya Subagio Sastrowardoyo, dan “Sekali berarti sudah itu mati”, kaya Chairil Anwar. Mana pilihan kita itu yang lebih penting,” ungkap Samson berkhutbah.
“Wah…wah, kau semakin canggih Son, penuh filsafat,” Wiryo meledak.
“Ya, namanya orang belajar, kalau tidak ada peningkatan berarti mandul. Kalau mandul tidak punya anak tidak ada generasi jadinya dunia semakin keropos, semoga saya tidak mandul,” Samson tertawa ngakak.
“Kalau benar mandul?” Wiryo menimpali.
“Ya semoga tidak,” keduanya tertawa ngakak.
“Son bulan depan kampung kita punya gawe!”
“Apa?”
“Itu upacara toga, ee…wisuda. Pelepasan mahasiswa-mahasiswa yang selesai ngangsu kawruh di kampung ini.”
“Ya…biar, itu kek sudah jadi tradisi,” ucap Samson kecut.
“Lho apa you tidak berpikir tentang kapan diwisuda?”
“Berpikir sih berpikir, mana ada orang hidup tidak berpikir, apalagi itu acara akbar dan seremonial. Tapi buat saya, wisuda bukan tujuan, cuma peristiwa kecil dalam hidup ini. Biarkan masyarakat yang mewisuda diri saya, sebab itu, maknanya lebih tinggi, lebih berarti. Justru masyarakat itulah yang menjadi tujuan hidup saya, tempat menempa, mengembangkan diri. Mungkin saya baru merasa senang apabila mampu mempersembahkan nilai untuk kehidupan, maupun untukNya. Sebab persembahan hakikat nilai itu yang mesti kita rebut, kita depakkan, kita beberkan, kita terang jelaskan berdasarkan kemauan yang kita miliki.”
Wiryo diam, sambil memperhatikan sikap Samson yang baru mengalami perubahan besar. Jidatnya berkerut selalu memandangi wajahnya. Tampaknya bahwa perubahan itu ada, tentang orientasi pikirnya. Jatuhnya mengumbar tanya, “Wah, anak ini sedang mengalami perubahan besar, sejak kapan dia begitu. Ini patut dilestarikan, kalau perlu, biar nongkrong saja di kampung ini. Barang pasti, akan membawa angin nggak untuk kemajuan kampung Muhammadiyah. Tapi, apa dia mau. Biasanya orang macam ini, pikirannya serba eksentrik. Atau barangkali, dia telah merebut hari bagi dirinya, merebut hari untuk dirinya, yang rata-rata jarang dipikiran manusia,” bisiknya dalam hati.
“Wir…ngalamun. Ingat Wir, masih muda. Pikiran mesti selalu menatap ke depan.”
“Ah, nggak….cuma aku menangkap sesuatu yang aneh dan lucu,” sambil manggut-manggut.


“Yang aneh dan lucu, apanya Wir?”
“Kampung kita.”
“Memangnya ada apa? Ada pelawaknya?”
“Ya….. Banyak badut-badut bertebaran, termasuk saya. Kamu adalah badut-badut yang sedang naik panggung. Kamu arti badut. Kampung kita adalah pertunjukan badut-badut itu. Masak ada, kampung yang begitu mewah, dan dikenal dengan gedung intelektual. Tak bisa menyuarakan dirinya, dalam dimensi yang mereka geluti.”
“Wir…” Potong Samson. “Kamu itu bicara apa, mbok yang logis, aku semakin tidak tahu maksudmu,” Samson gedhak-gedhek.
“Sebenarnya kita membicarakan diri kita sendiri, kampung yang kita diami ini. Semakin hari, semakin lesu. Katane saya lihat di pojok-pojok kampung, nampak mereka berdiskusi, memikirkan dirinya, kampung, bahkan masa depannya. Justru yang saya temui kesibukan panitia SIM, ngobrol-ngobrol tentang kemajuan gunung, basket, dan sejenisnya,” Wiryo nampak lesu.
“Kau jangan terus mengklaim begitu, walau bagaimanapun itu juga berpikir. Daya pikir kita kan terbatas, kayak melulu itu-itu saja yang kita pikirkan kan repot.” Samson membantah.
“Boleh sih boleh, tapi yang namanya kalung ilmuwan, kalau tiada kegiatan ilmuwan, apa mau dikata? Artinya kan sudah lain. Apa kita senang sebagai pajangan simbolis? Kesan itu sebagai status quo,” Wiryo nyengir.
“Iya, ya…. Repot. Ya…itulah hidup dan kehidupan. Perang? Lha, ini termasuk perang dalam diri manusia. Perang bukan saja pakai senjata. Tetapi bagaimana meminimalkan kemungkinan negatif dalam kehidupan ini,” Samson menetralisir—saat itu juga Samson mengemasi tas kariernya.
“Lho….. Mau kemana Son…eee…Saddam?”
“Mau pulang nonton perang teluk…nonton Saddam Hussein Jilungpet sama George Bush.”
“Nggak ngopi? Ngopi dulu.”
“Ah…sudah kasep. Okey…saya pulang.”
Wiryo tercengang dan kembali membaca catatan hariannya, yang tertuliskan Carpe Dien: Rebutlah hari. “Kapan, manusia-manusia dapat bahwa dirinya adalah manusia?” Bisiknya kembali. (Cahyo Guritno)