
DUALISME TREND PERADABAN – Oleh: Wahyu Suganjar
Dalam edisi Desember tahun lalu (1990) dalam majalah TIME di Inggris, dimuat pool pendapat umum yang pada kesimpulannya menyatakan bahwa “Kepopuleran Tuhan Anjlok”, seperti yang digambarkan dalam ulasan BBC London 24 Desember yang lalu. Sejumlah orang menyatakan tidak mengakui adanya Tuhan, sejumlah lainnya mengatakan adanya Tuhan tetapi tidak diikuti dengan perbuatan sehari-hari yang mencerminkan pernyataannya itu, dan hanya sejumlah kecil yang mengakui adanya Tuhan dan diikuti dengan perbuatan yang mencerminkan pernyataannya itu.
Gejala yang sebenarnya merupakan salah satu gejala atau fenomena yang ada ini tentu saja meresahkan pemuka-pemuka gereja di Inggris yakni dengan komentar mereka yang mengingatkan pendeta-pendeta untuk mengkaji cara-cara penyampaian ajaran agama dengan metode yang baru karena metode yang selama ini dipakai dikatakan sebagai telah kehabisan “kata kata baru”.
Apabila kita simak dalam sejarah agama Kristen yaitu pada era “AUFKLARUNG” dimana adanya pemisahan urusan negara atau duniawi dengan urusan kerohanian atau keagamaan, maka semenjak itulah dalam agama Kristen kita kenal adanya Paus sebagai kepala gereja dan negara dipimpin oleh kepala pemerintahan. Memang usaha untuk mendekati gejala agama dari sudut pandangan Ilmu Pengetahuan (ilmu) bukanlah usaha yang begitu saja diterima oleh semua orang. Baik di bidang ilmu Ketuhanan maupun di bidang ilmu pengetahuan terdapat ahli-ahli yang menolak usaha tersebut. dalam kalangan teolog ada yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan adalah profan, tidak berwenang untuk berbicara tentang agama. Bahkan dalam kalangan intelektual ada yang berkeberatan terhadap universalitas agama. Menurut mereka pembicaraan tentang agama tidak mungkin bersifat ilmiah dalam arti ilmu pengetahuan empiris. Kalau begitu bukankah harus dikatakan bahwa agama tak terjangkau bagi sebuah ilmu pengetahuan yang seperti halnya ilmu pengetahuan lain, bersifat empiris?
Bila kita meninjau dengan lebih seksama sebab musabab penolakan kaum intelektual bukan karena alasan prinsipil melainkan karena alasan praktis, yang mereka khawatirkan adalah ilmu lain akan menggerogoti norma-norma religius. Tetapi ada juga pimpinan agama dan ahli-ahli Ketuhanan yang secara prinsipil berkeberatan terhadap campur tangan ilmu lain. Kelompok ini menaruh tekanan pada iman yang telanjang. sambil menyingkirkan segala ungkapan religius dan tindakan keagamaan yang baik secara langsung dimaksudkan untuk menanggapi wahyu Allah, mereka menganggap sebagai tidak berguna bagi iman, bahkan sebagai bahaya yang mengancam iman sejati.
Bagi tokoh-tokoh besar psikologi yang terkenal seperti Freud dan Jung agama memang suatu kenyataan yang menjadi urusan psikologi juga. Pendapat antara keduanya tentang agama cukup bertentangan. Bagi Freud misalnya, iman kepada Allah merupakan suatu khayalan, sebuah gejala neurosis bangsa manusia. Sedangkan Jung berpendapat bahwa agama sama pentingnya dengan rejeki. Manusia jatuh sakit apabila harus hidup tanpa agama, apabila tidak terdapat Allah di dalamnya. baik penolakan terhadap campur tangan ilmu lain terhadap agama maupun pendirian yang keras dari Freud dan Jung bahwa agama hanya mempunyai kenyataan manusiawi saja, oleh Dr. Nico Syukur Dister ofm dalam bukunya Pengalaman dan Motivasi Beragama, diisyaratkan sebagai akibat salah paham serta kurangnya pengertian tentang ke-dudukan agama dalam dunia penghayatan manusia dan juga tugas psikologi terhadapnya.
Kebutuhan religius manusia adalah kebutuhan di satu sisi dan di sisi lain adalah perpikir. Sedangkan bagi seorang muslim, Islam adalah sebagai yang sempurna dan juga merupakan suatu peradaban dan juga kebudayaan yang canggih. Pada era sekarang ini banyak praktek-praktek keagamaan atau religius digunakan orang dan diyakini kebenarannya, karena suatu bentuk kultus atau dengan istilah lain suatu dogma-dogma yang diterima dengan apa adanya seakan menjawab (sementara) pencarian sementara orang akan makna dan arti hidup. Dalam keadaan seseorang terdesak oleh pengalaman riilnya sendiri untuk memiliki suatu pegangan maka ajaran apa pun jadilah, asalkan menimbulkan kepuasan klaimnya ajaran agama akan kemutlakan. Tapi kepuasan itu sangat pendek umurnya, sementara karena jika ternyata dasar kepercayaan itu palsu maka akan memukul balik secara lebih dahsyat dari dorongan akan perlunya pegangan ajaran agama. Dorongan yang mendesak itu biasanya menyebabkan orang masih mendapatkan doktrin-doktrin keagamaan lebih meyakinkan dirinya ketimbang argumen ilmiah.
Lepas dari keotentikan sumber maka ungkapan “Agama adalah akal dan tidak ada agama bagi mereka yang tidak berakal mengandung makna kebenaran yang asli dan asasi. Dengan acuan ungkapan tersebut di atas orang Islam atau cendekia-cendekia Islam mempunyai konsekuensi logis dan langsung untuk selalu mengaktualisasikan pemahaman ajaran Islam, karena hal ini adalah faktor yang paling mendesak untuk mengungkapkan nuktah-nuktah ajaran Islam sebagai memang benar menurut landasan pengujian yang ilmiah atau mengantisipasi tumbuhnya problema-problema kemanusiaan yang mendasar sifatnya dengan segala aspek kultur, moral dan spiritual, (Abdul Muis, Kompas 14 Des ’90). Jadi bukan hanya menjawab (sementara) pencarian sementara mereka akan makna dan arti hidup. Yang pada gilirannya akan menempatkan kajian Islam di dalam kerangka konseptual dan mendekati subjeknya dari persepsi yang lebih luas yaitu dunia Islam.
Sikap-sikap seperti inilah yang dibutuhkan Islam pada masa sekarang ini yang harus dapat kita mulai karena setidaknya Muhammadiyah telah menempatkan Ijtihad setelah Al Qur’an dan sunah Rasulullah, sehingga dapat menjanjikan perspektif yang cerah bagi Islam di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya, aamiin.