
TRANSFORMASI KURIKULUM PENDIDIKAN VOCATIONAL
“Vovational education is now considered as inferior education. It continually declined in Greek an Roman time. We have never thought that it takes an important role in increasing technology. Now, the problem is how to minimize vocational educated graduation in the case of un-imployment. This article is discussing the implementation and transformation of curriculum.”
SEJARAH PENDIDIKAN VOCATIONAL
Pendidikan sebagaimana ada sekarang ini merupakan rekayasa dan evolusi dari pendidikan di masa lampau. Pada zaman Pra Sejarah, di mana sebuah kelompok sosial masih berwujud suku-suku kecil, pendidikan merupakan bagian dari aktivitas keluarga. Sehingga seorang ayah dan ibu mempunyai peranan yang paling penting dalam penanaman pribadi dan pendidikan anak. Selain orang tua, anggota masyarakat yang lain kadang ikut berperan dalam melakukan pendidikan
Dalam hal ini perburuan dan pengumpulan bahan makanan merupakan objek pengajaran yang biasa dilakukan dengan imitasi, permainan dan pengalaman langsung. Pendidikan ini sangat realistis dan praktis.
Anak-anak biasanya mempelajari tradisi lewat cerita-cerita yang berhubungan dengan kampung mereka. Sedangkan para pemuda mempelajari adat-istiadat suku dan hal-hal yang religius, semasa mereka mendekati kedewasaan.
Di saat pekerjaan mulai terspesialisasi, timbul pendidikan yang bersifat vocational. Pada sebuah suku bisa muncul spesialisasi kerja seperti dukun, seniman dan sejenisnya yang menuntut perlunya mengajari pemuda-pemuda tertentu untuk bisa melanjutkan profesi tersebut. Pendidikan pun dilakukan dengan cara magang, dengan itu mereka bisa mengetahui seluk beluk perdukunan ataupun kesenian. Bukti adanya sekolah yang bersifat vocational tersebut adalah sebagai berikut:
“At Limeuil in the Dordogne a number of trial pieces, executed on pebbles, have been collected. They may be the copy-books of an artschool; on some pieces directions, as if by a master’s hand, have been noticed. The artist magicians were experts, specially trained for their task”¹
Pada awal peradaban, dalam pembuatan dan pengelolaan proyek-proyek besar seperti candi dan sebagainya penghitungan, pengukuran serta perekaman sangat diperlukan. Karena keperluan inilah para pendeta menemukan bagaimana menulis, membaca dan menghitung. Dan berdirilah sekolah-sekolah yang berfungsi mendidik siswa untuk melaksanakan tugasnya nanti sebagai Pendeta. jadi bisa dikatakan bahwa pertama-tama sekolah bersifat utilitarian dan vocational. Namun perjalanan waktu mengubah sekolah menjadi formal, bookish, dan menjadi menara gading.
Pada masa awal peradaban pun para mahasiswa lebih memberi perhatian dan penghargaan kepada buku-buku masa lampau ketimbang buku-buku yang baru.
“Instead of demanding that a book should be up to date and embody the latest discoveries, the Egyptian or Baby-lonian student valued it for its antiquity. A publisher would then advertise his wares not as a “new and resived adition”, but as faithful copy of a fabulously old text. And so the “jacket” of the Rhind Mathematical Papyrus runs: “Rules for enquiring into na-ture and for knowing all that exists. The rule was written in the thirty-third year of King Aauserre. in the likeness of a writting of antiquity made in the time of King Nemare (1880-1850 BC). It was the scribe Ahmose who made this copy2.
Posisi pendidikan vocational memang berbalik setelah peradaban Yunani. Hal ini timbul karena pada masa Sofi di Yunani para sofis menganggap bahwa pendidikan vocational tidak atau kurang ideal karena bersifat illiberal. Pada zaman Romana malah sekolah-sekolah retorika lebih ditonjolkan dan menelan sekolah filosofi. Sehingga pada zaman Yunani pendidikan vocational terdegradasi menuju posisi bawah. Bahkan Aristoteles mengatakan:
“And any occupation, art, or science, which makes the body or soul or mind of the freeman less fit for the practice or exer-cise of virtue, is vulgar; Wherefore we call those arts vulgar which tend to defarm the body, and likewise all paid employment, for they absorb and degrade the mind. There are also some liberal arts quite proper for a freeman to acquire, but only in a certain degree, and if he attends to them closely, in order to attain perfection in them the same evil effects will follow. The object also which a man sets before his own sake or for the sake of his friends, or with a view of excellence, the action will not appear illiberal; but if done for the sake of others, the very same action will be thought menial and servile” 3.
Sampai sekarang pun pendidikan vocational dianggap sebagai pendidikan infeior, meski akhir-akhir ini masyarakat mulai memandangnya. Tetapi pandangan itu hanya merupakan alternatif daripada tidak sama sekali. Pandangan tersebut disebabkan oleh adanya anggapan bahwa pendidikan vocational ini illiberal, kasar dan rendah.


Namun demikian pendidikan ini sebenarnya memiliki peranan penting dalam perkembangan sejarah. Apalagi bila dihubungkan dengan teknologi yang sekarang tengah menjadi alat untuk mencapai atau memenuhi kebutuhan manusia.
Peluncuran Sputnik, Colombia, Challanger dan berbagai teknologi yang mengagumkan justru tidak akan tercapai tanpa ada personil-personil yang terdidik secara vocational.
MASALAH PENDIDIKAN VOCATIONAL
Masalah yang sekarang kita hadapi adalah dalam metetakkan pendidikan vocational agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja dalam setiap lapangan kerja, sekaligus meminimalkan jumlah pengangguran. Perubahan keperluan pemenuhan tenaga kerja dari tahun pertama ke tahun berikutnya perlu diprediksi dalam upaya pelaksanaan pendidikan tersebut
Tabel di bawah ini menunjukkan perubahan proyek PMDN dan PMA yang disetujui, yang tentunya mempengaruhi perubahan komposisi kebutuhan tenaga kerja.
Perubahan kebutuhan tenaga kerja karena hilangnya lapangan kerja oleh faktor-faktor tertentu juga menjadi masalah pendidikan vocational, seperti dikatakan oleh Beckner:
“The problem is one of determining how best to keep pace with the changes taking place in the world of work. To compound the problem, it is estimated that many of the vocations not now in exist-ence. How, then, can a student be prepared for a vocation that, at the present, doesn’t exist?” 4.
Selain perubahan jumlah lapangan kerja, perubahan prioritas pada setiap tahap pembangunan lima tahun juga me-rupakan masalah yang perlu dipertimbang-kan dalam penyusunan kurikulum pen-didikan vocational. Di saat pembangunan lima tahun kita prioritaskan pada bidang pertanian, sudah semestinya pendidikan vocational kita arahkan ke sana. Lain lagi bila kita mulai memprioritaskan bidang industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku atau kita memprioritaskan bidang industri yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi.
ALTERNATIF PEMECAHANNYA
Mengingat pentingnya pendidikan vocational terhadap pengisian lapangan kerja, serta menghindari kemubaziran yang disebabkan oleh ketidaksetaraan antara jumlah kelulusan pendidikan vocational dan jumlah lapangan kerja maka “cluster approach” dapat menjadi alternatif pemecahannya. Pendekatan ini telah dilakukan di Indonesia dengan munculnya sekolah-sekolah kejuruan yang ada. Seperti dikatakan oleh Beckner:
“Recognizing the possibility of training students for a vocation that may not exist in the future, vocational educators has been moving in the direction of what is known as the “cluster approach”. In essence, the plan involves exposing stu-dents to a preparation program centered around several vocations that have ele-ments in common. In other words, a stu-dent trains for a cluster of occupations rather than one specific vocation.5
Untuk menjawab pertanyaan Beckner tentang sulitnya melakukan pendidikan vocational yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja dan terhadap lapangan kerja yang muncul dan hilang bisa kita gunakan bentuk “cluster approach”. Namun untuk menjawab kondisi kedua, yaitu perubahan prioritas pembangunan dan perubahan / perkembangan hardware yang harus dikejar dengan perkembangan software dan ability tenaga kerja, maka bentuk pendekatan tersebut bahkan dapat menurunkan keterampilan kelulusan. Ditambah lagi kebutuhan Indonesia dalam menghadapi persaingan ekonomi, yang sekarang mulai mencari cara baru dengan merujuk pada sogo soshanya Jepang atau Chaebolnya Korea Selatan, seperti dikatakan oleh Anwar Nasution.
Untuk memenuhi kebutuhan Indonesia dalam menumbuhkan entrepreneur nasional dengan meniru model pembinaan Sogo Sosha di Jepang maupun Chaebol di Korea Selatan, Indonesia mulai melakukan model itu dengan istilah Indonesia Incorporated. Namun ada dua hal yang membuat strategi Jepang dan Korea Selatan kurang dapat diterapkan di Indonesia. Pertama, sifat motivasi pengusaha kita berbeda dengan motivasi pengusaha kedua negara tersebut. Kedua, skill base manajer (administrasi dan teknik) dan tenaga kerja kita juga masih jauh di bawah skill base yang ada di negara tersebut.


Jelas pendidikan vocational yang sekarang ada belum memadai untuk revolusi tersebut. Satu bentuk pendidikan vocational yang lebih terspesialisasi sebenarnya bisa digunakan untuk mengatasi kekurangan ini. Hanya masalah kesesuaian komposisi tenaga kerja dan lapangan kerja yang tersedia ini yang harus kita hadapi dengan upaya prediksi masa depan. Dengan mengacu pada Rencana Pembangunan Lima Tahun kita, dan patokan-patokan yang telah dilakukan oleh pemerintah, kita dapat melakukan prediksi tersebut.
Prioritas dalam setiap tahap Pemban-gunan yang lebih konkrit dapat membantu pelaksanaan transformasi kurikulum pendidikan vocational yang sekaligus akan mendukung pelaksanaan pembangunan.
Nur Hidayat, Mahasiswa Program Bahasa Inggris,
Aktivis MUEC, UMS