
BERITA KAMPUS
REKTOR:
SAATNYA MEMBANGUN IDENTITAS DIRI
Segala kelebihan dan fasilitas yang sekarang tersedia di kampus merupakan peluang baik bagi civitas akademika untuk mengembangkan diri. Hal ini akan mendorong tumbuhnya kebanggaan terhadap almamater, yang pada akhirnya kita secara pasti akan melandasi lahirnya identitas diri sebagai satu kelompok masyarakat ilmiah.
Rektor Djazman Al Kindi menegaskan hal itu saat pelantikan kerabat kerja PABELAN periode 1989/1990 pada pertengahan Juni lalu. Dikatakan, lahirnya identitas diri yang kuat pada setiap civitas Akademika UMS akan mampu menangkal penyakit yang kebanyakan dialami hampir sebagian besar PTS di Indonesia. Penyakit Komplek klas dua yang menghinggapi pada sebagian besar warga PTS, menurut Rektor, akan membahayakan karena mampu menggoncangkan kampus. Orang yang dijangkiti sindrome klas dua ini bisa menjadi berbahaya karena biasanya mereka bertindak tidak lagi menjaga asas keseimbangan yang menggunakan nalar dalam mengambil sikap, tapi lebih didasari perasaan dan keinginan untuk menang sendiri.
“Tetapi kalau kita mampu menjaga kesadaran akan kekurangan dan kelebihan kita, tidak mustahil hal ini akan menjadi potensi besar yang akan mampu membawa kemajuan dimasa mendatang”, begitu rektor mengingatkan.
Tumbuhnya kesadaran akan kelebihan dan kekurangan yang kita miliki dapat memberi inspirasi bagi civitas akademika untuk secara bersama-sama berjuang menyelesaikan kekurangan-kekurangan yang ada agar menjadi lebih baik. Dengan begitu kampus yang sudah dikenal baik oleh masyarakat luas ini bisa semakin menunjukkan tanggungjawab dirinya sebagai lingkungan masyarakat ilmiah. Kampus semakin mampu mengembangkan ciri-ciri intelektual yang hasilnya juga dapat dinikmati masyarakat banyak.
Bahasa Intelek
Pada bagian lain dari sambutannya Djazman mengatakan, kematangan intelektual seorang warga kampus merupakan indikator yang akan menunjukkan jati diri orang yang bersangkutan. Kematangan intelektual yang ada itu akan nampak dari gaya dan penampilan orang yang bersangkutan. Ciri-ciri orang intelek akan nampak jika dia bisa membawakan diri dalam perilaku dengan didasari pemikiran yang matang. Dalam melakukan kritik sekalipun, selalu menggunakan argumentasi sehat. “Kritiknya tidak kampungan dan asal bunyi”, katanya. (Ngrm/Mahli)
ISLAM DIANTARA IDIOLOGI DUNIA
Segi kualitas Perguruan Tinggi Islam Negeri dan Swasta sebenarnya tidak jauh berbeda, hanya segi formalitasnya saja yang membedakannya. Tapi satu hal yang lebih penting untuk dilakukan oleh Perguruan Tinggi Islam adalah meningkatkan kemampuan untuk menerjemahkan Islam yang normatif itu ke dalam realitas kehidupan, oleh karena secara potensial posisi Islam sekarang ini cukup strategis mengingat idiologi yang ada saat ini tinggal menunggu keruntuhannya.
Demikian sambutan Drs. Ahmad Lujito, Kopertis VI Wilayah Jawa Tengah, pada acara penanda tanganan kerja sama antara IAIN Walisongo Semarang dengan FIAI-UMS dan penyerahan status diakui dan terdaftar, masing-masing untuk fakultas ushuluddin dan tarbiyah serta fakultas syari’ah FIAI-UMS, di Puslitmang UMS, 20 Juli 1989.


Sementara Rektor UMS, HM. Djazman Al-Kindi, dalam kata sambutannya pada acara itu mengatakan, dengan kerja sama FIAI-UMS dengan IAIN Walisongo dan penyerahan status ini dapat mendorong untuk meningkatkan mutu akademik dan kerja sama, yang nantinya mampu mewujudkan satu lembaga bagi pusat study Islam yang untuk sementara ini masih cenderung berkiblat ke dunia Barat. Seperti akhir-akhir ini dilakukan Menteri Agama RI, Munawir Sadzali, MA.
Hadir dalam acara itu, Drs. M. Djazman, Drs. Ahmad Lujito, sejumlah pimpinan UMS, para Dekan di lingkungan UMS, sejumlah warga civitas akademika FIAI dan undangan lainnya. Dan setelah usai penanda tanganan dan penyerahan status itu dilanjutkan dengan kegiatan kajian Islam oleh Rektor IAIN Walisongo Semarang Drs. Ahmad Lujito, dengan membawakan kertas kerja “Sistem Memahami Islam dalam Dunia Modern”. (ron-ch).
MALIMPA LAKUKAN EKSPEDISI
Setelah sukses dengan serangkaian kegiatan pada peringatan Dasa Warsa Malimpa UMS, sekarang Malimpa menyelenggarakan kegiatan Outdoor kampus. Dengan diikuti sembilan orang personil lembaga pecinta alam itu melakukan Penelusuran Pesisir Pantai Utara Jawa Tengah selama satu minggu, 9 sampai 15 Juli 1989.
Beranggotakan tim senior-yunior mereka menelusuri pantai Kartini, pantai Mlonggo, Banyutowo, Benteng Portugis, pantai Tayu, pantai Juwana dan berakhir di Pantai Kartini Rembang. Maksud dari kegiatan ini, menurut mereka, mencoba menguak keragaman kekayaan alam dan aneka kehidupan yang ada di sekitar pesisir pantai. Selain itu ekspedisi juga digunakan untuk menguji keprimaan fisik, mental dan kemampuan intelektual anggota, serta dimaksudkan untuk menyambut program sadar wisata dan memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Disebutkan mereka, dari rangkaian kegiatan ini ada beberapa masukan penting dapat mereka peroleh yang nantinya akan menjadi dasar bagi kegiatan semacam dimasa mendatang. Acara ini sekaligus merupakan babakan baru bagi Malimpa, karena ekspedisi berhasil mengukir nama sebagai kelompok pecinta alam pertama yang menjinakkan Alam Pantai Utara Jawa Tengah.
Berangkat dalam rombongan ini masing-masing Ahyar, Toni, Lumadiana, Ansori, Falih dan Sugiarso untuk kelompok putra, dan Eny, Lestari, serta Puji Rusiani di kelompok putri. BRAVO Malimpa! (STONE)
PESTA DU’AFA DARI FATHUR RAHMAN
Menyambut tahun haji dan Idhul Adha 1409 H tahun ini ta’mir masjid Fathur Rahman menyelenggarakan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan bulan haji itu. Berbeda dengan tahun sebelumnya, yang hanya menyelenggarakan sholat idhul adha dan pemotongan ternak di kampus, tahun ini ta’mir bekerja sama dengan IMM Korkom mengembangkan kegiatan dengan beberapa acara pelengkap.
Tahun ini, hanya ada tiga kambing yang disisakan untuk kampus, dan selebihnya dikirim ke daerah-daerah miskin yang membutuhkan. Dengan tiga kambing tersebut ta’mir berhasil mengumpulkan mahasiswa, anak-anak yatim dan orang-orang miskin yang ada disekitar kampus dalam satu atap masjid mengikuti pengajian dan pesta makan bersama. Hal itu dimaksudkan untuk lebih mendekatkan makna idhul adha kepada semua manusia karena dengan menyatunya seluruh warga masyarakat berarti akan mampu meningkatkan rasa persaudaraan sesama muslim, serta dapat menangkal rasa kebencian, permusuhan dan kejahatan dalam masyarakat.
Sayangnya, makna kesetiakawanan yang ingin dicapai melalui kegiatan ini nampaknya tidak sepenuhnya berhasil. Kurangnya publikasi membuat acara ini tidak sesemarak yang diharapkan. “Tidak sepi, tapi kurang meriahlah”, ujar seorang mahasiswa. (Ngrm)
PABELAN No. 01 Tahun XIII 1989